Sejarah Organisasi Guru dan Kelahiran PGRI

Sejarah organisasi guru di Indonesia adalah cerminan dari perjuangan nasional, dimulai dari tuntutan kesetaraan hak dan upah di masa kolonial hingga puncaknya dalam pembentukan PGRI setelah kemerdekaan.

1. Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB): Awal Perjuangan (1912)

Organisasi guru bermula dari rasa ketidakadilan yang dialami oleh guru-guru pribumi di Hindia Belanda.

  • Pemicu Diskriminasi : Sejak pemerintah kolonial mendirikan sekolah, kebutuhan guru meningkat. Namun, terdapat kesenjangan gaji yang sangat mencolok:
    • Guru Eropa bergaji minimal f.150 per bulan.
    • Guru pribumi lulusan KS/HKS bergaji sekitar f.75–f.150.
    • Guru pribumi lulusan sekolah kelas dua bergaji kurang dari f.50 per bulan.
  • Pendirian: Keluhan gaji yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup ini mendorong beberapa guru di Yogyakarta, Magelang, dan Bondowoso, termasuk Dwidjosewojo, Karto Hadi Soebroto, dan N. Boediardjo, untuk bersatu. Mereka mendirikan Persatuan Goeroe Hindia Belanda (PGHB) pada 1 Januari 1912 di Magelang.
  • Pencapaian Awal: PGHB bergerak cepat. Pada akhir 1912, mereka memiliki 1.427 anggota. Keberhasilan awal mereka adalah mendorong kenaikan gaji guru pada tahun 1913. PGHB juga menggagas usaha asuransi bersama yang kemudian berkembang menjadi Asuransi Boemiputera.

2. Masa Gejolak dan Kebangsaan (1914–1945)

Perjuangan internal dan nasionalisme mulai mewarnai perjalanan organisasi ini.

  • Perpecahan PGHB: Kenaikan gaji 1913 tidak menyelesaikan masalah. Guru lulusan sekolah kelas dua merasa perjuangan para pemimpin PGHB (yang mayoritas lulusan KS) kurang serius dan organisasi dinilai terlalu Jawa-sentris. Akibatnya, PGHB pecah, melahirkan organisasi daerah seperti Persatuan Guru Pasundan (1914) dan perkumpulan lain seperti Persatuan Guru Desa (1920).
  • Menuju Persatuan: Meskipun sempat terpecah, para pengurus terus menyerukan persatuan. PGHB akhirnya bertransformasi menjadi federasi pada tahun 1927. Semangat kebangsaan yang semakin kuat mendorong organisasi ini mengganti nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada 1932. Penggunaan kata “Indonesia” menunjukkan cita-cita kemerdekaan, meskipun dilarang keras oleh Belanda.
  • Masa Jepang: Semua aktivitas organisasi guru dihentikan selama masa pendudukan Jepang.

3. Kelahiran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)

Setelah proklamasi kemerdekaan, para guru menyadari pentingnya wadah tunggal untuk mendukung negara baru.

  • Kongres Guru Indonesia: Hanya 100 hari setelah Proklamasi, pada tanggal 25 November 1945, diselenggarakan Kongres Guru Indonesia di Surakarta.
  • Lahirnya PGRI: Kongres ini secara resmi menyatukan semua guru dan organisasi guru yang ada di seluruh Indonesia dalam satu wadah tunggal, yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
  • Tiga Cita-cita Utama PGRI:
    1. Mempertahankan dan menyempurnakan kemerdekaan Republik Indonesia.
    2. Meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan dasar kerakyatan.
    3. Memperjuangkan nasib dan kesejahteraan guru.

Hari Guru Nasional

Untuk menghargai peran dan perjuangan guru dalam membina bangsa sejak masa penjajahan hingga masa kemerdekaan, tanggal 25 November (tanggal kelahiran PGRI) ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional..